Jumat, 29 Juni 2012

cinta tak bersyarat, cinta tak berbatas




Lelaki di sampingku mencintai perempuan mungil itu. Sejak pertama binar matanya melihat seraut wajah yang terpejam di kasur tua rumah sakit, ia tahu, detik itu juga ia jatuh hati tak berdasar. Bahkan rela lesap untuk cinta tanpa batas. Tanpa syarat.
Ia resah bila menangkap isak tangis yang keluar dari bibir mungil berwarna merah jambu itu. Tapi, sebagian dari hatinya lega ketika mendengar pula raungan yang membahana, itu tanda mereka masih akan terus bersama. Dan diam-diam, dalam hati, lelaki itu merapalkan doa yang diselipkannya ke balik bantal sebelum tidur, tentang harapan dan mimpi untuk bisa bersama lebih lama lagi. Menyaksikan perempuan yang dicintainya melewati semua penanda waktu yang dianggap penting.
Ia mendadak ingin hadir di setiap momen berharga perempuan mungil itu. Ia tak ingin ketinggalan apa pun tentang perempuan itu. Bahkan tidak untuk sedetik saja.
‘Aku benar-benar jatuh hati. Bukan sekadar jatuh cinta,’ akunya. Ia memandang lekat perempuan mungil yang rambutnya kian tebal mengikal—yang  kerap ia cuci dengan merang. Perempuan yang dipandangi sibuk sendiri di meja seberang. Ia sibuk dengan teman-temannya. Tertawa dan sesekali berteriak kegirangan atas lelucon dan kelucuan yang dibuat bersama kawan.
Lelaki itu tersenyum. Pandangannya tak lepas. Pandangan penuh sayang. Pandangan yang jarang ditemui ketika ia berada di jalanan memacu sepeda motornya, mengantar penumpang. ‘Aku rela menukar apa pun untuk tetap membuat ia tersenyum,’ katanya pelan.
Aku melemparkan pandangan ke seberang. Seorang lelaki mendekati perempuan mungil itu, menarik pita merah yang mengikat rambut hitam ikal perempuan itu. perempuan mungil berteriak. Lelaki usil itu terkekeh, senang mendengar teriakan dan wajah bulat telur yang cemberut.
Refleks, aku melirik ke lelaki yang ada di sebelahku. Kedua tangannya yang menggenggam jeruji pagar, tempat kami mengamati perempuan itu dari kejauhan, terkepal kencang. Ia seperti menahan diri agar tak menghampiri lelaki itu dan menggamparnya.
Aku terkekeh kecil menyaksikan itu. ‘Dia akan baik-baik saja.’
Lelaki itu tak memindahkan pandangannya, tetapi tangannya sudah tak lagi terkepal. ‘Aku berharap ia tak pernah patah hati.’
‘Kau bermimpi. Bagaimana kaubisa mengantisipasi itu semua. Kaubisa melindunginya dari rasa lapar dan menjauhkan dia dari kekurangan secara materi. Tetapi urusan hati, tak ada pelindungnya,’ sahutku.
Seandainya, hati memiliki alat pelindung semacam kondom. Mungkin lelaki yang duduk di sebelahku ini tak akan berhenti memacari dan mencintai semua perempuan di muka bumi. Hingga satu hari ia bertemu kegagalan dalam mencintai.
Aku masih ingat isak yang ditahannya ketika mengabarkan, ia tak mampu mempertahankan hubungan dengan seorang perempuan yang dicintainya. Perempuan yang dengannya ia bermimpi tumbuh tua bersama cinta dan waktu. Nyatanya, mereka berhenti saling mencintai. Atau mungkin cinta itu saja yang tak lagi sama rasanya.
Perempuan itu meninggalkannya. Meninggalkannya begitu saja. cinta tak cukup untuk kita bertahan hidup, kata perempuan itu.
Luka itu dibawanya. Ditimbunnya dalam gelap malam. Pada kertas origami berwarna-warni yang kerap kulihat berserakan di meja ruang tamunya, kusaksikan ia melarung harapan. Kertas itu dilipatnya menjadi perahu, dilayarkannya di parit kecil depan rumah yang airnya berwarna cokelat dan tak jarang mengeluarkan bau tak sedap akibat sampah yang tersendat.
Ia melarung harapan itu bersama perempuan mungil yang sedang ditatapnya lekat-lekat, seolah khawatir ia lenyap dari pandangan.
Luka itu belum sembuh. Setiap kali memandang si perempuan mungil yang kini menjadi pujaan hatinya, lelaki itu kian terlihat rapuh. ‘Aku hanya bisa pasrah para perasaan ini. Aku rela menjadi alas kaki untuk kebahagiaannya.’ Tak kusangka, sahabatku, yang dulu gemar berganti perempuan, kita menyerahkan seluruh hidupnya kepada perempuan yang sedang asyik sendiri bersenda gurau di balik pagar besi berkarat yang meninggalkan serbuk merah kecokelatan di telapak tangannya.
Kuakui, perempuan mungil memiliki wajah yang mirip perempuan yang dicintainya setengah mati. Yang membuatnya terseok-seok. Meluluhlantakkannya hingga tinggal serpihan. Namun, tak pernah kulihat tatapan seintens dan setulus itu. Semurni itu dan sepenuh cinta itu dari sepasang mata yang pernah sangat jalang. Bahkan tidak kepada perempuan yang diaku-aku ia cintai.
‘Aku jatuh hati. Kautahu, aku jatuh hati. Semakin aku menghabiskan waktu bersamanya, semakin aku takut ia akan pergi dariku suatu saat nanti,’ keluhnya. Ia bilang, ia tak sanggup membayangkan kehilangan yang seperti itu. kehilangan perempuan mungil itu dalam hidupnya. Itu kiamat, baginya.
Perempuan mungil yang memiliki mata bulat bola pingpong itu adalah cinta terbesar yang pernah ia punya. Ia rela menjadi hulubalangnya, atas nama cinta yang tak bersyarat.
Aku tergagu dalam gugu.
Suara yang memekakkan seantero penjuru gedung membuat kami terjaga. Bergegas, aku dan dia bergerak ke sisi samping pagar. Seorang lelaki tua membuka pintu pagar lebar-lebar yang segera diserbu makhluk-makhluk kecil.
‘Papa!!!!’
Tangan lelaki itu terentang lebar saat ia melihat pemilik suara itu berlari ke arahnya. Perempuan mungil memburunya. Masuk ke dekapan lelaki itu. Dekapan yang paling menghangatkan dari lelaki yang paling tulus mencintainya. [13]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar